Tingginya kebutuhan Bubblewrap ini mendorong kenaikan pendapatan produsen bubble wrap. Tengok saja, kenaikan omzet panji packing,
Distributor bubble wrap di tahun ini naik 20% dibandingkan dari tahun lalu. "Permintaan pembungkus ini terus naik dari tahun ke tahun.
Laki-laki ini sudah menggeluti usaha pembuatan bubble wrap sejak 10 tahun lalu. Darmono pun, mengaku meski buatan lokal, produknya tidak kalah dengan produk impor.
Dengan menggunakan bahan plastik polistiren, Darmono menjual produknya per lembar, dengan ukuran 125x50 cm2. Dalam sebulan, bisa merengkuh omzet hingga Rp 100 juta.
Klien Darmono pun cukup beragam, mulai dari agen elektronik, tas hingga perusahaan garmen. "Prospek usaha pembuatan bubble wrap ini cukup menjanjikan, mengingat banyaknya industri yang membutuhkan jenis plastik ini," ujar Darmono yang sekarang mempekerjakan sepuluh karyawan.
Hari Bonanta, produsen bubble wrap asal Cileungsi, Jawa Barat, sepakat dengan Setiawan. Hari mengatakan, permintaan pembungkus plastik ini tak pernah surut.
Ia yakin, kedepannya, prospek usaha ini tetap menarik, mengingat sampai saat ini konsep bubble wrap masih merupakan plastik pembungkus yang paling efektif. "Kecuali nanti sudah ditemukan konsep baru. Itu lain lagi ceritanya," tuturnya.
Alhasil, pemilik CV Meruya Lestari ini bisa menghasilkan omzet hingga Rp 80 juta per bulan. "Dari pembuatan bubble wrap ini, saya memperoleh margin keuntungan sekitar 25%," tegas Hari.
Baik Darmono maupun Hari hanya melayani pembelian partai besar. "Pembeli kami banyak dari perusahaan-perusahaan dengan skala menengah ke atas," tegas hari.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
wow. ternyata, plastik gelembung berawal dari produk gagal !!!
pasti teman-teman pernah beli barang yang dibungkus dengan plastik yang dilengkapi dengan bulatan-bulatan kecil? Ya, Bubble Wrap, na...
-
Jual Kardus, Kami adalah salah satu perusahaan Kardus Terbaik di Indonesia. Kami menyalani dengan segenap hati dan akan memberikan pelayan...



Tidak ada komentar:
Posting Komentar